Minggu, 29 Desember 2013

Change - Satu part 3



Satsuki membuka pintu toilet dengan perasaan kesal. Harusnya ia tahu Mika itu memang paling tidak bisa menilai orang lain.

Teman e-mailnya, yang katanya bernama Taki –ia masih belum yakin itu nama aslinya, benar-benar orang yang suka sekali merendahkan orang lain, sering menyombongkan diri, dan omong besar.

Bagaimana Taki bisa membuat Mika serius mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu seolah kata-kata itu adalah berlian? Cowok bernama Jiro, temannya pria itu, di luar dugaan justru terlihat lebih baik. Ia menjawab pertanyaan Mika dengan sopan, dan kelihatannya menahan marah setiap kali tingkah menyebalkan Taki muncul.

Ia mencuci tangannya berkali-kali sampai bekas tangan Taki yang tadi memegangnya di setiap kesempatan saat Mika tidak melihat itu hilang. Ia sudah memelototinya, menepisnya dengan sekasar mungkin, tapi laki-laki kurang ajar itu malah tersenyum tanpa dosa dan kali terakhir malah tertawa dan berkata,
  
“Kenapa Satsuki-chan? Kau seperti memakan makanan basi!” 

Rasanya ia ingin sekali membantingnya. Bahkan orang itu memanggilnya dengan nama depan! 

Tepat saat itu Mika masuk dengan wajah bingung dan berseru kaget melihat Satsuki. 

Kenapa sekaget itu? Bukankah ia sudah bilang akan ke toilet sebentar? 

“Satsuki-chan! Kukira kau sudah pulang, soalnya kau membawa tasmu.” 

Satsuki mengerutkan kening. “Mana mungkin aku meninggalkanmu dengan orang-orang mencurigakan itu.” 

Mika seperti tersadar sesuatu. Ia bergumam setuju. “Memang agak mencurigakan…” 

Satsuki mendengus, aku sudah berkali-kali mengatakannya.

“Laki-laki bernama Jiro itu…” 

“Mungkin maksudmu ‘laki laki bernama Taki’?” 

Mika berseru tidak terima. “Eeh?! Apanya yang mencurigakan dari dia?” 

Satsuki memandang Mika tak percaya. “Apa kau tidak sadar pelayan yang melayani kita diganti karena Taki itu terus menerus menghinanya? Atau waktu ia mengatakan kejelekan Jiro-san di depan kita?" Kesabaran Satsuki benar-benar sudah habis. Ia benar-benar kesal harus berurusan dengan tipe  yang paling ia benci. "Jangan lupa saat ia mengatakan ‘baka’ padamu.” 

Wajah Mika bersemu merah. “Itu hanya bercanda! Dia mengatakan itu sambil tertawa!” 

“Tapi itu tidak sopan.” 

Mika mengerucutkan bibirnya. Ia buru-buru mengeluarkan sesuatu dari tasnya. 

“Apa itu?” 

Mika menyodorkan sebuah kotak. “Lihat saja,” 

Satsuki memandang Mika ragu. Kenapa Mika kelihatan takut?, batinnya melihat Mika yang tanpa sadar menggigit-gigit jarinya. 

Ia membuka kotak itu. Isinya sebuah kalung yang terbuat dari emas putih dengan berlian yang cukup besar dihias sangat rumit. Dan cantik. 

Satsuki mengerutkan kening. “Darimana kau dapatkan ini?” 

Mika menautkan jari-jarinya gugup.

Saat itulah Satsuki sadar, “Dari mereka?” 

“Tadi saat aku bilang ingin membereskan make-up di toilet, Jiro juga ikut, lalu saat sudah dekat toilet dia buru-buru memberikan ini. Katanya ‘Tolong simpan dulu ini untukku, nanti akan kuminta. Tapi jangan bilang siapa-siapa’. Begitu kulihat isinya ternyata… Bagaimana ini, Satsuki? Aku buru-buru masuk toilet, untunglah kau belum pulang.” 

Satsuki menimang kotak perhiasan itu. Anak kecil pun tahu barang ini bernilai jutaan yen…

Atau lebih bernilai lagi? Satsuki menggigit bibir.

Ibunya yang tahu banyak soal perhiasan, bukan dia. Tapi ia tahu satu hal. Mereka –Jiro ataupun Taki bukan orang yang mampu membeli ini. Ia sering melihat anak-anak teman ayahnya yang terbiasa mempunyai banyak uang. Dan jelas bukan tipe orang seperti Jiro atau Taki. Tapi ia tidak bisa menuduh mereka sembarangan.

Satsuki menyodorkan kotak itu. “Ayo kembali kesana. Aku akan menelepon temanku yang membawa mobil, kita kembalikan barang ini dan cepat-cepat meninggalkan tempat ini.” 

Tapi ternyata harapan mereka meleset.

Sampai larut malam, mereka harus tetap di kafe itu. Menjawab pertanyaan-pertanyaan para polisi, berulang-ulang, harus menjelaskan dengan jelas apa yang sudah mereka lihat, mengulang kejadian, dan menghadapi hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Ini benar-benar menguras batinnya, membuatnya teringat kejadian masa lalu, saat ia masih seorang bocah cengeng yang tidak bisa melakukan apa pun. Tapi Satsuki tidak akan menangis lagi. Karena seseorang di masa lalunya, ia sudah tidak akan pernah lagi menangis. 

Dan  kejutan lainnya di malam itu, ia akan bertemu dengan pria itu.

Jumat, 07 Juni 2013

Change - Satu part 2



“Satsuki-chan!!” seru Mika begitu Satsuki muncul di pintu sebuah kafe.

Ia melambai-lambai dengan heboh sampai Satsuki rasanya hampir-hampir merasa malu. Tapi toh ia bukan tipe yang memperdulikan pendapat orang. Jadi Satsuki langsung duduk di hadapan Mika, menaruh tas bawaannya yang cukup besar –berisi baju-baju yang ia pikir harus dibawa dari rumah, dan tanpa basa-basi bertanya, “Ada urusan apa kau meneleponku?” 

Mika, temannya sejak SMP, memang tidak memberitahukan apa-apa saat tiba-tiba menyuruh Satsuki yang baru turun dari kereta datang menemuinya dengan segera. Karena memang sudah memaklumi sifat Mika, Satsuki pun melakukan permintaannya. Lagipula, rencana liburannya di rumah ternyata berakhir lebih cepat karena ayahnya ada pekerjaan. Lagi-lagi. 

Mika menatap tas Satsuki heran. Lalu ia beralih menatap Satsuki dengan pandangan gembira. “Apa kau habis menghabiskan liburan bersama pacarmu?” 

“Aku tidak pernah punya pacar, Mika.” 

“Itu karena kau tidak mau mencarinya…” komentar Mika blak-blakan. Tapi lalu ia berubah semangat.

“Boleh aku tanya kenapa kau tidak mau mencari pacar? Jangan-jangan sebenarnya ada seseorang yang kau suka dan tidak pernah kau ceritakan padaku?” 

Satsuki menyipit curiga. “Apa yang kau rencanakan, Mika?” 

Mika menatap Satsuki kaget. “Eh… Itu…” ia memainkan jarinya gugup. Lalu seorang pelayan datang menanyakan pesanan, sesaat ia terlihat lega. 

Pelayan itu pria muda, kira-kira seumuran dengannya, dan memakai kacamata. Ia cukup manis, hanya saja wajahnya agak terlihat murung. Satsuki tanpa sadar memperhatikan.  

“Emm… parfait saja,” putus Mika. 

“Anda?” tanya pelayan itu. 

“Orange juice,” 

Pelayan itu membungkuk dan pergi. Satsuki menatap Mika, menunggu. 

Mika langsung menepukkan tangannya di depan wajah, minta maaf. “Gomen…! Habis Yuri dan Risa tidak bisa datang… Jadi aku benar-benar tidak tahu harus mengajak siapa lagi..” 

Mata Satsuki melebar saat menyadari maksud Mika. “Ee?! Goukon?!” seru Satsuki tak percaya. 

Mika melambaikan tangannya, buru-buru menepis dugaan Satsuki. “Bukan, bukan! Hanya menemaniku bertemu teman e-mailku,” ia menambahkan hati-hati. “Tapi katanya ia akan bawa temannya…” 

“Sama saja,” 

“Tapi katanya kasihan kalau aku bawa temanku, temanku pasti akan canggung. Jadi dia akan bawa temannya.” 

“Jadi dia sudah mengatur-ngaturmu bahkan sebelum bertemu?” 

Yah.. eh.. Tapi dia orang baik, Satsuki-chan! Dia selalu membantuku kalau ada masalah,” 

Lewat email?, pikir Satsuki sinis. “Kau bahkan tidak tahu wajahnya,” 

“Aku memang tidak mengirimkan fotoku, tapi dia sudah mengirimkan fotonya sejak sebulan lalu.” 

“Apa kalian bertukar e-mail dengan nama palsu?” 

“Jangan sinis begitu! Aku tahu namanya, dan bahkan nama temannya! Namanya Taki, dan nama temannya Jiro!” sembur Mika. Ia lalu berseru kaget saat pelayan yang kemunculannya tidak terlihat tiba-tiba menumpahkan gelas pesanan mereka di meja. 

“Ma-maaf,” kata pelayan itu gugup dan buru-buru membenahi kekacauan. Satsuki sudah berdiri dan mengamankan tasnya. Mika berdiri di sampingnya dengan wajah bingung. Pelayan itu membungkuk berkali-kali dan minta maaf. 

“Tidak apa-apa,” Satsuki menghentikan permohonan maaf si pelayan yang malang. “Kami akan pindah tempat duduk saja. Tolong kau bawakan pesanan kami yang baru ya,” 

Pelayan itu bahkan masih membungkuk minta maaf sampai mereka pergi dari meja itu. Satsuki sampai merasa tidak enak, padahal tidak ada dari mereka yang terkena tumpahan. 

Mika mengikuti Satsuki duduk di meja baru mereka, wajahnya masih bingung. “Aku benar-benar kaget. Tadi dia… He? Kau sedang apa?” 

Satsuki mengeluarkan uang dari dompetnya. “Ini untuk pesananku. Aku mau pulang.” 

Mika menatap Satsuki dan pintu kafe bergantian dengan wajah memelas. “Tapi mereka sudah datang…”  

Satsuki tidak tahan untuk tidak mengerang.



Notes : 

Gomen : Maaf
Goukon : Group date

Change - Satu part 1


“Sebuah apartemen di kawasan elit XXX telah dirampok. Korban dibunuh dan beberapa perhiasan mewahnya raib diambil. Menurut keterangan saksi, pelaku perampokan berjumlah dua orang, dan diduga keduanya laki-laki. Kedua pelaku perampokan ini mengambil kesempatan saat sang pemilik rumah sedang keluar. Sayangnya sang pemilik apartemen yang kembali untuk mengambil barangnya yang tertinggal bertemu dengan kedua perampok dan berakhir meninggal dengan tragis. Walaupun keamanan apartemen ini cukup bagus  



Satsuki mematikan televisi dan mengangkat teleponnya yang berdering. Ia tipe yang selalu membiarkan lawan bicaranya memulai obrolan terlebih dulu, jadi ia langsung mengenali kesunyian dari seberang. 

“Ibu?” tanyanya langsung. Hanya ibunya yang ragu-ragu untuk memulai pembicaraan saat menelepon ke telepon rumah –Satsuki yakin ibunya takut kalau ayahnya yang mengangkat. Ia tak habis mengerti, kalau memang sebegitu takutnya, kenapa tidak meneleponnya langsung ke ponselnya? Ia sudah memberikan nomornya sejak pertama kali membeli handphone –sudah bertahun-tahun lalu dan ia juga tidak pernah mengganti nomornya. 

“Satsuki?” suara ibunya terdengar lega. Tapi ia lalu berbisik, “Ayahmu ada?” 

Satsuki memutar bola matanya. Seperti suara ibunya bakal terdengar saja, batinnya.

“Tidak, bu. Ayah sedang ke kantor.” Mungkin sebentar lagi akan kembali, lanjutnya dalam hati. Tapi ibunya pasti tidak akan mau berbicara lama-lama kalau ia memberitahu. 

“Baguslah,” katanya terburu-buru. Tapi ia kemudian terdengar ragu-ragu. “Eh… Satsuki-chan… mengenai makan malam nanti…” 

“Jangan bilang ibu membatalkan janji.” Ucap Satsuki dingin.

Karena perceraian orangtuanya, ibunya pergi dari rumah untuk tinggal terpisah. Dan sejak itu mereka hanya bertemu seminggu sekali, saat makan malam akhir minggu. Memasuki SMA, Satsuki memutuskan tinggal sendiri di apartemennya yang sekarang –hanya butuh 15 menit berjalan kaki ke sekolah. Jadi ia hanya tinggal di rumah mereka dulu –yang sekarang hanya ditinggali ayahnya– selama liburan sekolahnya saja, dan mereka sekeluarga melakukan perjanjian untuk selalu bertemu pada akhir minggu. Walaupun akhirnya hanya diadakan satu bulan sekali, dan sering kali dibatalkan. Entah karena urusan ibunya, atau ayahnya. Sesekali Satsuki memang bertemu ibunya, atau ayahnya, di luar jam makan malam keluarga rutin mereka, tapi tetap saja rasanya berbeda dengan bertemu dengan kedua orangtuanya, bersama-sama. 

Dan sekarang ibunya membatalkan makan malam rutin mereka yang jumlahnya dalam satu tahun ini bahkan bisa dihitung jari. Walaupun ini adalah minggu terakhir liburan musim panasnya. Bagus. 

“Maaf… Ibu benar-benar minta maaf… Ibu tahu sekarang sedang libur musim panasmu, tapi ibu benar-benar sibuk…” Ibunya memohon. Semenjak ibunya mendapatkan pekerjaan di perusahaan penerbitan, ia jadi hampir tidak punya waktu bahkan untuk dirinya sendiri. 

“Minggu lalu juga ibu bilang begini.” 

“Tapi… ” 

“Juga minggu lalunya lagi. Juga saat libur musim semi ibu hanya bisa– ” 

“Satsuki-chan!” potong ibunya. “Ibu tahu ibu salah, makanya maafkan ibu, ne? Nanti ibu akan gantikan hari ini dengan menginap di apartemenmu. Kita bisa bersenang-senang. Bagaimana?” 

“Baiklah…” Satsuki mengalah. 

“Oh, terima kasih, Satsuki! Kita bisa membeli baju baru untukmu. Kau tahu kan, baju musim panasmu sudah mulai ketinggalan jaman.” Satsuki bisa mendengar ibunya mencibir.

“Dan ibu tidak suka gaya busanamu yang agak tomboy. Kau juga harus mencari gaun, tidak ada yang tahu kapan kau akan memerlukannya. Oh! Kita juga harus membeli yukata baru untukmu. Bukankah di daerah dekat apartemenmu akan ada festival musim panas? Kita harus pergi bersama-sama.” Sekali ibunya sudah menemukan bahan pembicaraan bagus –biasanya tentang mode pakaian, ia sulit sekali dihentikan. 

“Ya bu…” Satsuki mendengar suara pintu terbuka.

Dengan gagang telepon masih di telinganya, ia menghampiri pintu depan dan mendapati ayahnya sedang mengganti sandal rumah. Ayahnya mendongak dan memberikan tatapan bertanya pada gagang telepon yang sedang ia pegang, bersamaan dengan ibunya yang mulai berceloteh riang mengenai rencananya untuk rencana festival mereka.  

Okaeri,” sambut Satsuki pada ayahnya. Ia menunjuk telepon. “Ayah ingin berbicara dengan ibu?” 

“Apa ayahmu?” suara ibunya terkejut. Belum sempat ia melarang, suara berat ayahnya yang ragu-ragu terdengar.

Moshi-moshi? Haruka?” 

Satsuki tersenyum. ia melenggang puas ke kamarnya.



Notes : 

Okaeri : Selamat datang
Moshi-moshi : Halo (untuk telepon)

Minggu, 06 November 2011

"Change" - prolog


Saat itu Satsuki sedang menonton anak-anak di kelasnya bermain sepakbola dan duduk di pinggir lapangan sekolahnya. Disebelahnya, teman sekelasnya yang paling dekat dengannya, Nobuko, sedang berusaha meramaikan suasana dengan berteriak menyemangati anak laki-laki kelas mereka yang sedang bertanding dengan anak laki-laki kelas lain.

Satsuki bukan orang yang banyak bicara, juga bukan anak yang mudah bergaul ataupun ikut dalam keramaian kegiatan, ia tidak biasanya ikut bergabung bersama anak-anak lain menyemangati anak laki-laki bermain bola. Namun saat itu ia menyukai seorang anak laki-laki. Seperti anak gadis lainnya, ia tertarik pada anak laki-laki di kelas yang sama dengannya. Namanya Taisei. Tapi ia hanya berani menyimpan perasaannya, bersikap percaya diri saat Taisei berbicara saat sebenarnya ia sedang ia sangat gugup. 

Dengan beralasan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya menemani Nobuko menonton pertandingan, ia mengamati Taisei menggiring bola, dan ikut tersenyum saat Taisei bersorak gembira bola timnya masuk ke gawang lawan.


“Hei, kalian.” Saat itulah suara berat itu mulai datang di kehidupannya.

Sontak Satsuki dan Nobuko menoleh –Nobuko bahkan menghentikan teriakannya, mendapati dua orang pria dengan seragam gakuran SMA berdiri di belakang mereka. Salah seorang yang berdiri paling depan agak menunduk, sedikit mempersempit jarak antara tubuhnya yang tinggi dan mereka yang sedang duduk –walaupun sebenarnya Satsuki lebih tinggi dari rata-rata anak seumurnya.

“Apa kalian mengenal Matsuoka-sensei?” Tanya laki-laki paling depan.

Satsuki dan Nobuko mengangguk.

“Apa kalian tahu dimana?” Tanyanya lagi.

Pria yang berdiri di belakang menambahkan, “Kami sudah pergi ke kantor guru, tapi tidak menemukannya.”

Nobuko menggeleng dan mengangkat bahu. “Kalau begitu Matsuoka-sensei pasti sudah pulang.”

Laki-laki yang berdiri di belakang berseru kecewa.

“Mungkin ada di halaman belakang sekolah.” Satsuki berkata.

Kedua pelajar SMA itu, juga Nobuko, memandanginya. Ia tak nyaman dipandangi seperti itu, apalagi tatapan pelajar SMA yang di hadapannya terasa agak tajam, tapi ia sedikit menambahkan rasa percaya dirinya saat melanjutkan, “Matsuoka-sensei selalu rutin merawat semua tanaman disini, jadi kalau kalian tidak melihat sensei di halaman depan, ia pasti ada di halaman belakang sekolah.”

Pelajar SMA paling depan mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum. Sesaat Satsuki terpana, cowok itu sepertinya pria paling tampan yang pernah ia temui, apalagi saat tersenyum seperti itu ia kelihatan sangat mencolok. “Benarkah? Kalau begitu terima kasih, kouhai.” Ia sedikit membungkuk dan pergi. Laki-laki di belakangnya juga memberi salam dan mengikutinya.

“Apa dia alumni sekolah kita? Tadi dia memanggil kita kouhai!” seru Nobuko. “Dia tampan sekali! Ya kan?”

Satsuki hanya tersenyum. Memang, pikirnya. Tapi aku lebih suka wajah Taisei.

Saat itu mungkin ia belum benar-benar mengerti arti “suka” yang sebenarnya...



Notes :
Gakuran : Seragam pelajar pria yang berkerah tinggi
Sensei : Guru, pak guru, bu guru
Kouhai : Junior