Saat itu Satsuki sedang menonton anak-anak di kelasnya bermain sepakbola dan duduk di pinggir lapangan sekolahnya. Disebelahnya, teman sekelasnya yang paling dekat dengannya, Nobuko, sedang berusaha meramaikan suasana dengan berteriak menyemangati anak laki-laki kelas mereka yang sedang bertanding dengan anak laki-laki kelas lain.
Satsuki bukan orang yang
banyak bicara, juga bukan anak yang mudah bergaul ataupun ikut dalam keramaian
kegiatan, ia tidak biasanya ikut bergabung bersama anak-anak lain menyemangati anak laki-laki bermain bola. Namun saat itu ia menyukai seorang anak laki-laki. Seperti anak gadis
lainnya, ia tertarik pada anak laki-laki di kelas yang sama dengannya. Namanya
Taisei. Tapi ia hanya berani menyimpan perasaannya, bersikap percaya diri saat
Taisei berbicara saat sebenarnya ia sedang ia sangat gugup.
Dengan beralasan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya menemani Nobuko menonton pertandingan, ia mengamati Taisei menggiring bola, dan ikut tersenyum saat Taisei bersorak gembira bola timnya masuk ke gawang lawan.
Dengan beralasan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya menemani Nobuko menonton pertandingan, ia mengamati Taisei menggiring bola, dan ikut tersenyum saat Taisei bersorak gembira bola timnya masuk ke gawang lawan.
“Hei, kalian.” Saat
itulah suara berat itu mulai datang di kehidupannya.
Sontak Satsuki dan Nobuko
menoleh –Nobuko bahkan menghentikan teriakannya, mendapati dua orang pria
dengan seragam gakuran SMA berdiri di belakang mereka. Salah seorang
yang berdiri paling depan agak menunduk, sedikit mempersempit jarak antara
tubuhnya yang tinggi dan mereka yang sedang duduk –walaupun
sebenarnya Satsuki lebih tinggi dari rata-rata anak seumurnya.
“Apa kalian mengenal Matsuoka-sensei?”
Tanya laki-laki paling depan.
Satsuki dan Nobuko mengangguk.
“Apa kalian tahu dimana?”
Tanyanya lagi.
Pria yang berdiri di belakang
menambahkan, “Kami sudah pergi ke kantor guru, tapi tidak menemukannya.”
Nobuko menggeleng dan mengangkat
bahu. “Kalau begitu Matsuoka-sensei pasti sudah pulang.”
Laki-laki yang berdiri di
belakang berseru kecewa.
“Mungkin ada di halaman belakang
sekolah.” Satsuki berkata.
Kedua pelajar SMA itu, juga
Nobuko, memandanginya. Ia tak nyaman dipandangi seperti itu, apalagi
tatapan pelajar SMA yang di hadapannya terasa agak tajam, tapi ia sedikit menambahkan
rasa percaya dirinya saat melanjutkan, “Matsuoka-sensei selalu rutin merawat
semua tanaman disini, jadi kalau kalian tidak melihat sensei di halaman
depan, ia pasti ada di halaman belakang sekolah.”
Pelajar SMA paling depan
mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum. Sesaat Satsuki terpana, cowok itu sepertinya pria paling tampan yang pernah ia temui, apalagi saat tersenyum seperti itu ia kelihatan sangat mencolok. “Benarkah? Kalau begitu terima kasih, kouhai.”
Ia sedikit membungkuk dan pergi. Laki-laki di belakangnya juga memberi salam
dan mengikutinya.
“Apa dia alumni sekolah kita?
Tadi dia memanggil kita kouhai!” seru Nobuko. “Dia tampan sekali! Ya
kan?”
Satsuki hanya tersenyum. Memang,
pikirnya. Tapi aku lebih suka wajah Taisei.
Saat itu mungkin ia belum
benar-benar mengerti arti “suka” yang sebenarnya...
Notes :
Gakuran : Seragam pelajar pria yang berkerah
tinggi
Sensei : Guru, pak guru, bu guru
Kouhai : Junior
Tidak ada komentar:
Posting Komentar