Minggu, 06 November 2011

"Change" - prolog


Saat itu Satsuki sedang menonton anak-anak di kelasnya bermain sepakbola dan duduk di pinggir lapangan sekolahnya. Disebelahnya, teman sekelasnya yang paling dekat dengannya, Nobuko, sedang berusaha meramaikan suasana dengan berteriak menyemangati anak laki-laki kelas mereka yang sedang bertanding dengan anak laki-laki kelas lain.

Satsuki bukan orang yang banyak bicara, juga bukan anak yang mudah bergaul ataupun ikut dalam keramaian kegiatan, ia tidak biasanya ikut bergabung bersama anak-anak lain menyemangati anak laki-laki bermain bola. Namun saat itu ia menyukai seorang anak laki-laki. Seperti anak gadis lainnya, ia tertarik pada anak laki-laki di kelas yang sama dengannya. Namanya Taisei. Tapi ia hanya berani menyimpan perasaannya, bersikap percaya diri saat Taisei berbicara saat sebenarnya ia sedang ia sangat gugup. 

Dengan beralasan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya menemani Nobuko menonton pertandingan, ia mengamati Taisei menggiring bola, dan ikut tersenyum saat Taisei bersorak gembira bola timnya masuk ke gawang lawan.


“Hei, kalian.” Saat itulah suara berat itu mulai datang di kehidupannya.

Sontak Satsuki dan Nobuko menoleh –Nobuko bahkan menghentikan teriakannya, mendapati dua orang pria dengan seragam gakuran SMA berdiri di belakang mereka. Salah seorang yang berdiri paling depan agak menunduk, sedikit mempersempit jarak antara tubuhnya yang tinggi dan mereka yang sedang duduk –walaupun sebenarnya Satsuki lebih tinggi dari rata-rata anak seumurnya.

“Apa kalian mengenal Matsuoka-sensei?” Tanya laki-laki paling depan.

Satsuki dan Nobuko mengangguk.

“Apa kalian tahu dimana?” Tanyanya lagi.

Pria yang berdiri di belakang menambahkan, “Kami sudah pergi ke kantor guru, tapi tidak menemukannya.”

Nobuko menggeleng dan mengangkat bahu. “Kalau begitu Matsuoka-sensei pasti sudah pulang.”

Laki-laki yang berdiri di belakang berseru kecewa.

“Mungkin ada di halaman belakang sekolah.” Satsuki berkata.

Kedua pelajar SMA itu, juga Nobuko, memandanginya. Ia tak nyaman dipandangi seperti itu, apalagi tatapan pelajar SMA yang di hadapannya terasa agak tajam, tapi ia sedikit menambahkan rasa percaya dirinya saat melanjutkan, “Matsuoka-sensei selalu rutin merawat semua tanaman disini, jadi kalau kalian tidak melihat sensei di halaman depan, ia pasti ada di halaman belakang sekolah.”

Pelajar SMA paling depan mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum. Sesaat Satsuki terpana, cowok itu sepertinya pria paling tampan yang pernah ia temui, apalagi saat tersenyum seperti itu ia kelihatan sangat mencolok. “Benarkah? Kalau begitu terima kasih, kouhai.” Ia sedikit membungkuk dan pergi. Laki-laki di belakangnya juga memberi salam dan mengikutinya.

“Apa dia alumni sekolah kita? Tadi dia memanggil kita kouhai!” seru Nobuko. “Dia tampan sekali! Ya kan?”

Satsuki hanya tersenyum. Memang, pikirnya. Tapi aku lebih suka wajah Taisei.

Saat itu mungkin ia belum benar-benar mengerti arti “suka” yang sebenarnya...



Notes :
Gakuran : Seragam pelajar pria yang berkerah tinggi
Sensei : Guru, pak guru, bu guru
Kouhai : Junior


Tidak ada komentar:

Posting Komentar