“Sebuah apartemen di kawasan elit XXX
telah dirampok. Korban dibunuh
dan beberapa perhiasan mewahnya raib diambil. Menurut
keterangan saksi, pelaku perampokan berjumlah dua orang, dan diduga keduanya
laki-laki. Kedua pelaku perampokan ini mengambil kesempatan saat sang pemilik rumah sedang keluar. Sayangnya sang pemilik
apartemen yang kembali untuk mengambil barangnya yang tertinggal bertemu dengan kedua perampok dan berakhir meninggal dengan tragis. Walaupun keamanan
apartemen ini cukup bagus– ”
Satsuki mematikan
televisi dan mengangkat teleponnya yang berdering. Ia tipe yang selalu
membiarkan lawan bicaranya memulai obrolan terlebih dulu, jadi ia langsung
mengenali kesunyian dari seberang.
“Ibu?” tanyanya langsung.
Hanya ibunya yang ragu-ragu untuk memulai pembicaraan saat menelepon ke telepon
rumah –Satsuki yakin ibunya takut kalau ayahnya yang mengangkat. Ia tak habis
mengerti, kalau memang sebegitu takutnya, kenapa tidak meneleponnya langsung ke
ponselnya? Ia sudah memberikan nomornya sejak pertama kali membeli handphone
–sudah bertahun-tahun lalu dan ia juga tidak pernah mengganti nomornya.
“Satsuki?” suara ibunya
terdengar lega. Tapi ia lalu berbisik, “Ayahmu ada?”
Satsuki memutar bola
matanya. Seperti suara ibunya bakal
terdengar saja, batinnya.
“Tidak, bu. Ayah sedang ke kantor.” Mungkin sebentar lagi akan kembali,
lanjutnya dalam hati. Tapi ibunya pasti tidak akan mau berbicara lama-lama
kalau ia memberitahu.
“Baguslah,” katanya
terburu-buru. Tapi ia kemudian terdengar ragu-ragu. “Eh… Satsuki-chan… mengenai
makan malam nanti…”
“Jangan bilang ibu
membatalkan janji.” Ucap Satsuki dingin.
Karena perceraian orangtuanya, ibunya
pergi dari rumah untuk tinggal terpisah. Dan sejak itu mereka hanya bertemu
seminggu sekali, saat makan malam akhir minggu. Memasuki SMA, Satsuki
memutuskan tinggal sendiri di apartemennya yang sekarang –hanya butuh 15 menit
berjalan kaki ke sekolah. Jadi ia hanya tinggal di rumah mereka dulu –yang
sekarang hanya ditinggali ayahnya– selama liburan sekolahnya saja, dan mereka
sekeluarga melakukan perjanjian untuk
selalu bertemu pada akhir minggu. Walaupun akhirnya hanya diadakan satu bulan
sekali, dan sering kali dibatalkan. Entah karena urusan ibunya, atau ayahnya. Sesekali
Satsuki memang bertemu ibunya, atau ayahnya, di luar jam makan malam keluarga
rutin mereka, tapi tetap saja rasanya berbeda dengan bertemu dengan kedua
orangtuanya, bersama-sama.
Dan sekarang ibunya
membatalkan makan malam rutin mereka yang jumlahnya dalam satu tahun ini bahkan
bisa dihitung jari. Walaupun ini adalah minggu terakhir liburan musim panasnya.
Bagus.
“Maaf… Ibu benar-benar
minta maaf… Ibu tahu sekarang sedang
libur musim panasmu, tapi ibu benar-benar sibuk…” Ibunya
memohon. Semenjak ibunya mendapatkan pekerjaan di perusahaan penerbitan, ia
jadi hampir tidak punya waktu bahkan untuk dirinya sendiri.
“Minggu lalu juga ibu
bilang begini.”
“Tapi… ”
“Juga minggu lalunya
lagi. Juga saat libur musim semi ibu hanya bisa– ”
“Satsuki-chan!” potong
ibunya. “Ibu tahu ibu salah, makanya maafkan ibu, ne? Nanti ibu akan gantikan hari ini dengan menginap di
apartemenmu. Kita bisa bersenang-senang. Bagaimana?”
“Baiklah…” Satsuki
mengalah.
“Oh, terima kasih,
Satsuki! Kita bisa membeli baju baru untukmu. Kau tahu kan, baju musim
panasmu sudah mulai ketinggalan jaman.” Satsuki bisa mendengar ibunya mencibir.
“Dan ibu tidak suka gaya busanamu yang agak tomboy. Kau juga harus mencari gaun,
tidak ada yang tahu kapan kau akan memerlukannya. Oh! Kita juga harus membeli
yukata baru untukmu. Bukankah di daerah dekat apartemenmu akan ada festival
musim panas? Kita harus pergi bersama-sama.” Sekali ibunya sudah menemukan bahan pembicaraan bagus –biasanya tentang
mode pakaian, ia sulit sekali dihentikan.
“Ya bu…” Satsuki
mendengar suara pintu terbuka.
Dengan gagang telepon masih di telinganya, ia
menghampiri pintu depan dan mendapati ayahnya sedang mengganti sandal rumah.
Ayahnya mendongak dan memberikan tatapan bertanya pada gagang telepon yang
sedang ia pegang, bersamaan dengan ibunya yang mulai berceloteh riang mengenai
rencananya untuk rencana festival mereka.
“Okaeri,” sambut Satsuki pada ayahnya. Ia menunjuk telepon. “Ayah
ingin berbicara dengan ibu?”
“Apa ayahmu?” suara
ibunya terkejut. Belum sempat ia melarang, suara berat ayahnya yang ragu-ragu terdengar.
“Moshi-moshi? Haruka?”
Satsuki tersenyum. ia melenggang puas ke kamarnya.
Notes :
Okaeri : Selamat datang
Moshi-moshi : Halo (untuk telepon)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar