Jumat, 07 Juni 2013

Change - Satu part 2



“Satsuki-chan!!” seru Mika begitu Satsuki muncul di pintu sebuah kafe.

Ia melambai-lambai dengan heboh sampai Satsuki rasanya hampir-hampir merasa malu. Tapi toh ia bukan tipe yang memperdulikan pendapat orang. Jadi Satsuki langsung duduk di hadapan Mika, menaruh tas bawaannya yang cukup besar –berisi baju-baju yang ia pikir harus dibawa dari rumah, dan tanpa basa-basi bertanya, “Ada urusan apa kau meneleponku?” 

Mika, temannya sejak SMP, memang tidak memberitahukan apa-apa saat tiba-tiba menyuruh Satsuki yang baru turun dari kereta datang menemuinya dengan segera. Karena memang sudah memaklumi sifat Mika, Satsuki pun melakukan permintaannya. Lagipula, rencana liburannya di rumah ternyata berakhir lebih cepat karena ayahnya ada pekerjaan. Lagi-lagi. 

Mika menatap tas Satsuki heran. Lalu ia beralih menatap Satsuki dengan pandangan gembira. “Apa kau habis menghabiskan liburan bersama pacarmu?” 

“Aku tidak pernah punya pacar, Mika.” 

“Itu karena kau tidak mau mencarinya…” komentar Mika blak-blakan. Tapi lalu ia berubah semangat.

“Boleh aku tanya kenapa kau tidak mau mencari pacar? Jangan-jangan sebenarnya ada seseorang yang kau suka dan tidak pernah kau ceritakan padaku?” 

Satsuki menyipit curiga. “Apa yang kau rencanakan, Mika?” 

Mika menatap Satsuki kaget. “Eh… Itu…” ia memainkan jarinya gugup. Lalu seorang pelayan datang menanyakan pesanan, sesaat ia terlihat lega. 

Pelayan itu pria muda, kira-kira seumuran dengannya, dan memakai kacamata. Ia cukup manis, hanya saja wajahnya agak terlihat murung. Satsuki tanpa sadar memperhatikan.  

“Emm… parfait saja,” putus Mika. 

“Anda?” tanya pelayan itu. 

“Orange juice,” 

Pelayan itu membungkuk dan pergi. Satsuki menatap Mika, menunggu. 

Mika langsung menepukkan tangannya di depan wajah, minta maaf. “Gomen…! Habis Yuri dan Risa tidak bisa datang… Jadi aku benar-benar tidak tahu harus mengajak siapa lagi..” 

Mata Satsuki melebar saat menyadari maksud Mika. “Ee?! Goukon?!” seru Satsuki tak percaya. 

Mika melambaikan tangannya, buru-buru menepis dugaan Satsuki. “Bukan, bukan! Hanya menemaniku bertemu teman e-mailku,” ia menambahkan hati-hati. “Tapi katanya ia akan bawa temannya…” 

“Sama saja,” 

“Tapi katanya kasihan kalau aku bawa temanku, temanku pasti akan canggung. Jadi dia akan bawa temannya.” 

“Jadi dia sudah mengatur-ngaturmu bahkan sebelum bertemu?” 

Yah.. eh.. Tapi dia orang baik, Satsuki-chan! Dia selalu membantuku kalau ada masalah,” 

Lewat email?, pikir Satsuki sinis. “Kau bahkan tidak tahu wajahnya,” 

“Aku memang tidak mengirimkan fotoku, tapi dia sudah mengirimkan fotonya sejak sebulan lalu.” 

“Apa kalian bertukar e-mail dengan nama palsu?” 

“Jangan sinis begitu! Aku tahu namanya, dan bahkan nama temannya! Namanya Taki, dan nama temannya Jiro!” sembur Mika. Ia lalu berseru kaget saat pelayan yang kemunculannya tidak terlihat tiba-tiba menumpahkan gelas pesanan mereka di meja. 

“Ma-maaf,” kata pelayan itu gugup dan buru-buru membenahi kekacauan. Satsuki sudah berdiri dan mengamankan tasnya. Mika berdiri di sampingnya dengan wajah bingung. Pelayan itu membungkuk berkali-kali dan minta maaf. 

“Tidak apa-apa,” Satsuki menghentikan permohonan maaf si pelayan yang malang. “Kami akan pindah tempat duduk saja. Tolong kau bawakan pesanan kami yang baru ya,” 

Pelayan itu bahkan masih membungkuk minta maaf sampai mereka pergi dari meja itu. Satsuki sampai merasa tidak enak, padahal tidak ada dari mereka yang terkena tumpahan. 

Mika mengikuti Satsuki duduk di meja baru mereka, wajahnya masih bingung. “Aku benar-benar kaget. Tadi dia… He? Kau sedang apa?” 

Satsuki mengeluarkan uang dari dompetnya. “Ini untuk pesananku. Aku mau pulang.” 

Mika menatap Satsuki dan pintu kafe bergantian dengan wajah memelas. “Tapi mereka sudah datang…”  

Satsuki tidak tahan untuk tidak mengerang.



Notes : 

Gomen : Maaf
Goukon : Group date

Tidak ada komentar:

Posting Komentar