Satsuki membuka pintu toilet dengan perasaan
kesal. Harusnya ia tahu Mika itu memang paling tidak bisa menilai orang lain.
Teman e-mailnya, yang katanya bernama Taki –ia masih belum yakin itu nama aslinya, benar-benar orang yang suka sekali merendahkan orang lain, sering menyombongkan diri, dan omong besar.
Bagaimana Taki bisa membuat Mika serius mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu seolah kata-kata itu adalah berlian? Cowok bernama Jiro, temannya pria itu, di luar dugaan justru terlihat lebih baik. Ia menjawab pertanyaan Mika dengan sopan, dan kelihatannya menahan marah setiap kali tingkah menyebalkan Taki muncul.
Teman e-mailnya, yang katanya bernama Taki –ia masih belum yakin itu nama aslinya, benar-benar orang yang suka sekali merendahkan orang lain, sering menyombongkan diri, dan omong besar.
Bagaimana Taki bisa membuat Mika serius mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu seolah kata-kata itu adalah berlian? Cowok bernama Jiro, temannya pria itu, di luar dugaan justru terlihat lebih baik. Ia menjawab pertanyaan Mika dengan sopan, dan kelihatannya menahan marah setiap kali tingkah menyebalkan Taki muncul.
Ia mencuci tangannya berkali-kali sampai bekas tangan Taki yang tadi memegangnya di setiap kesempatan saat Mika tidak melihat itu hilang. Ia sudah memelototinya, menepisnya dengan sekasar mungkin, tapi laki-laki kurang ajar itu malah tersenyum tanpa dosa dan kali terakhir malah tertawa dan berkata,
“Kenapa Satsuki-chan? Kau seperti memakan makanan basi!”
Rasanya ia ingin sekali membantingnya. Bahkan orang itu memanggilnya dengan nama depan!
Tepat saat itu Mika masuk dengan wajah bingung dan berseru kaget melihat Satsuki.
Kenapa sekaget itu? Bukankah ia sudah bilang akan ke toilet sebentar?
“Satsuki-chan! Kukira kau sudah pulang, soalnya kau membawa tasmu.”
Satsuki mengerutkan kening. “Mana mungkin aku meninggalkanmu dengan orang-orang mencurigakan itu.”
Mika seperti tersadar sesuatu. Ia bergumam setuju. “Memang agak mencurigakan…”
Satsuki mendengus, aku sudah berkali-kali mengatakannya.
“Laki-laki bernama Jiro itu…”
“Mungkin maksudmu ‘laki laki bernama Taki’?”
Mika berseru tidak terima. “Eeh?! Apanya yang mencurigakan dari dia?”
Satsuki memandang Mika tak percaya. “Apa kau tidak sadar pelayan yang melayani kita diganti karena Taki itu terus menerus menghinanya? Atau waktu ia mengatakan kejelekan Jiro-san di depan kita?" Kesabaran Satsuki benar-benar sudah habis. Ia benar-benar kesal harus berurusan dengan tipe yang paling ia benci. "Jangan lupa saat ia mengatakan ‘baka’ padamu.”
Wajah Mika bersemu merah. “Itu hanya bercanda! Dia mengatakan itu sambil tertawa!”
“Tapi itu tidak sopan.”
Mika mengerucutkan bibirnya. Ia buru-buru mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Apa itu?”
Mika menyodorkan sebuah kotak. “Lihat saja,”
Satsuki memandang Mika ragu. Kenapa Mika kelihatan takut?, batinnya melihat Mika yang tanpa sadar menggigit-gigit jarinya.
Ia membuka kotak itu. Isinya sebuah kalung yang terbuat dari emas putih dengan berlian yang cukup besar dihias sangat rumit. Dan cantik.
Satsuki mengerutkan kening. “Darimana kau dapatkan ini?”
Mika menautkan jari-jarinya gugup.
Saat itulah Satsuki sadar, “Dari mereka?”
“Tadi saat aku bilang ingin membereskan make-up di toilet, Jiro juga ikut, lalu saat sudah dekat toilet dia buru-buru memberikan ini. Katanya ‘Tolong simpan dulu ini untukku, nanti akan kuminta. Tapi jangan bilang siapa-siapa’. Begitu kulihat isinya ternyata… Bagaimana ini, Satsuki? Aku buru-buru masuk toilet, untunglah kau belum pulang.”
Satsuki menimang kotak perhiasan itu. Anak kecil pun tahu barang ini bernilai jutaan yen…
Atau lebih bernilai lagi? Satsuki menggigit bibir.
Ibunya yang tahu banyak soal perhiasan, bukan dia. Tapi ia tahu satu hal. Mereka –Jiro ataupun Taki bukan orang yang mampu membeli ini. Ia sering melihat anak-anak teman ayahnya yang terbiasa mempunyai banyak uang. Dan jelas bukan tipe orang seperti Jiro atau Taki. Tapi ia tidak bisa menuduh mereka sembarangan.
Satsuki menyodorkan kotak itu. “Ayo kembali kesana. Aku akan menelepon temanku yang membawa mobil, kita kembalikan barang ini dan cepat-cepat meninggalkan tempat ini.”
Tapi ternyata harapan mereka meleset.
Sampai larut malam, mereka harus tetap di kafe itu. Menjawab pertanyaan-pertanyaan para polisi, berulang-ulang, harus menjelaskan dengan jelas apa yang sudah mereka lihat, mengulang kejadian, dan menghadapi hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Ini benar-benar menguras batinnya, membuatnya teringat kejadian masa lalu, saat ia masih seorang bocah cengeng yang tidak bisa melakukan apa pun. Tapi Satsuki tidak akan menangis lagi. Karena seseorang di masa lalunya, ia sudah tidak akan pernah lagi menangis.
Dan kejutan lainnya di malam itu, ia akan bertemu dengan pria itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar