“Satsuki-chan!!” seru
Mika begitu Satsuki muncul di pintu sebuah kafe.
Ia melambai-lambai dengan
heboh sampai Satsuki rasanya hampir-hampir merasa malu. Tapi toh ia bukan tipe
yang memperdulikan pendapat orang. Jadi Satsuki langsung duduk di hadapan Mika,
menaruh tas bawaannya yang cukup besar –berisi baju-baju yang ia pikir harus
dibawa dari rumah, dan tanpa basa-basi bertanya, “Ada urusan apa kau meneleponku?”
Mika, temannya sejak SMP,
memang tidak memberitahukan apa-apa saat tiba-tiba menyuruh Satsuki yang baru
turun dari kereta datang menemuinya dengan segera. Karena memang sudah
memaklumi sifat Mika, Satsuki pun melakukan permintaannya. Lagipula, rencana
liburannya di rumah ternyata berakhir lebih cepat karena ayahnya ada pekerjaan.
Lagi-lagi.
Mika menatap tas Satsuki
heran. Lalu ia beralih menatap Satsuki dengan pandangan gembira. “Apa kau habis
menghabiskan liburan bersama pacarmu?”
“Aku tidak pernah punya
pacar, Mika.”
“Itu karena kau tidak mau
mencarinya…” komentar Mika blak-blakan. Tapi lalu ia berubah semangat.
“Boleh
aku tanya kenapa kau tidak mau mencari pacar? Jangan-jangan sebenarnya ada
seseorang yang kau suka dan tidak pernah kau ceritakan padaku?”
Satsuki menyipit curiga.
“Apa yang kau rencanakan, Mika?”
Mika menatap Satsuki
kaget. “Eh… Itu…” ia memainkan jarinya gugup. Lalu seorang pelayan datang
menanyakan pesanan, sesaat ia terlihat lega.
Pelayan itu pria muda,
kira-kira seumuran dengannya, dan memakai kacamata. Ia cukup manis, hanya saja
wajahnya agak terlihat murung. Satsuki tanpa sadar memperhatikan.
“Emm… parfait saja,”
putus Mika.
“Anda?” tanya pelayan
itu.
“Orange juice,”
Pelayan itu membungkuk
dan pergi. Satsuki menatap Mika, menunggu.
Mika langsung menepukkan
tangannya di depan wajah, minta maaf. “Gomen…!
Habis Yuri dan Risa tidak bisa datang… Jadi aku benar-benar tidak tahu harus
mengajak siapa lagi..”
Mata Satsuki melebar saat
menyadari maksud Mika. “Ee?! Goukon?!” seru Satsuki
tak percaya.
Mika melambaikan
tangannya, buru-buru menepis dugaan Satsuki. “Bukan, bukan! Hanya menemaniku
bertemu teman e-mailku,” ia
menambahkan hati-hati. “Tapi katanya ia akan bawa temannya…”
“Sama saja,”
“Tapi katanya kasihan kalau
aku bawa temanku, temanku pasti akan canggung. Jadi dia akan bawa temannya.”
“Jadi dia sudah
mengatur-ngaturmu bahkan sebelum bertemu?”
“Yah.. eh.. Tapi dia orang
baik, Satsuki-chan! Dia selalu membantuku kalau ada masalah,”
Lewat email?, pikir Satsuki sinis. “Kau
bahkan tidak tahu wajahnya,”
“Aku memang tidak
mengirimkan fotoku, tapi dia sudah mengirimkan fotonya sejak sebulan lalu.”
“Apa kalian bertukar
e-mail dengan nama palsu?”
“Jangan sinis begitu! Aku
tahu namanya, dan bahkan nama temannya! Namanya Taki, dan nama temannya Jiro!”
sembur Mika. Ia lalu berseru kaget saat pelayan yang kemunculannya tidak
terlihat tiba-tiba menumpahkan gelas pesanan mereka di meja.
“Ma-maaf,” kata pelayan
itu gugup dan buru-buru membenahi kekacauan. Satsuki sudah berdiri dan
mengamankan tasnya. Mika berdiri di sampingnya dengan wajah bingung. Pelayan
itu membungkuk berkali-kali dan minta maaf.
“Tidak apa-apa,” Satsuki
menghentikan permohonan maaf si pelayan yang malang. “Kami akan pindah tempat duduk saja. Tolong
kau bawakan pesanan kami yang baru ya,”
Pelayan itu bahkan masih
membungkuk minta maaf sampai mereka pergi dari meja itu. Satsuki sampai merasa
tidak enak, padahal tidak ada dari mereka yang terkena tumpahan.
Mika mengikuti Satsuki
duduk di meja baru mereka, wajahnya masih bingung. “Aku benar-benar kaget. Tadi
dia… He? Kau sedang apa?”
Satsuki mengeluarkan uang
dari dompetnya. “Ini untuk pesananku. Aku mau pulang.”
Mika menatap Satsuki dan
pintu kafe bergantian dengan wajah memelas. “Tapi mereka sudah datang…”
Satsuki tidak tahan untuk tidak mengerang.
Satsuki tidak tahan untuk tidak mengerang.
Notes :
Gomen : Maaf
Goukon : Group date